Waspada Penyakit Servisitis Pada Wanita
11 September 2020
Herpes Simplex – Gejala Penyebab dan Pengobatan
17 September 2020
Kista Bartholin

Kista Bartholin merupakan benjolan yang berisi cairan lubrikasi (pelumas) berkumpul dan tidak dapat keluar karena bukaan dari kelenjar bartholin terobstruksi. Kelenjar bartholin itu sendiri disebut kelenjar yang ada pada kedua sisi bukaan vagina, fungsinya yaitu untuk mengeluarkan cairan lubrikasi.

Wanita dengan rentang usia 20 sampai 30 tahun memiliki resiko lebih tinggi terkena kista bartholin, meski begitu penyakit ini dapat menyerang wanita tanpa membedakan usia. Biasanya para wanita tidak menyadari kalau dia terkena penyakit kista bartholin karena ukurannya yang sangat kecil.

Penyebab kista bartholin

Cairan lubrikasi atau pelumas saat hubungan seksual ini dikeluarkan oleh kelenjar bartholin lalu mengalir melalui saluran yang menuju vagina. Ketika saluran tersebut tersumbat, kemudian akan menampung cairan lubrikasi yang selanjutnya akan berkembang menjadi kista. Saat melakukan hubungan seksual cairan lubrikasi pada kelenjar bartholin akan meningkat produksinya yang akan semakin membesar.

Penyebab dari tersumbatnya kelenjar bartholin ini karena beberapa faktor yaitu iritasi jangka panjang, infeksi bakteri, juga peradangan. Sedangkan infeksi pada kelenjar bartholin dapat disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae, Chlamydia trachomatis dan Escherichia coli. Bakteri tersebut juga salah satu penyebab penyakit infeksi menular seksual (IMS). Bakteri neisseria gonorrhoeae yang menyebabkan gonore atau kencing nanah. Bakteri chlamydia trachomatis yang menyebabkan penyakit chlamydia. Bakteri escherichia coli atau E. coli yang menyebabkan keracunan makanan dan diare.

Gejala kista bartholin

Berikut ini perlu anda perhatikan untuk beberapa gejala dari penyakit kista bartholin yang mungkin tidak anda sadari. Gejalanya seperti :

  1. Adanya benjolan kecil awalnya mungkin tidak terasa sakit dan jika diraba terasa lunak.
  2. Benjolan bisa bertambah besar dalah beberapa jam atau hari.
  3. Biasanya disadari ketika dilakukan pemeriksaan pada area panggul.
  4. Ketika sudah terjadi pembengkakan dapat disertai nanah (abses) dan terasa sakit.
  5. Setelah pembengkakan penderita sulit untuk duduk, berjalan juga berhubungan seksual.
  6. Juga gejalanya terkadang disertai demam.

Jika gejala tersebut dirasakan dan tidak segera melakukan pemeriksaan akan muungkin terjadi komplikasi. Komplikasinya berupa kista atau infeksi berulang serta infeksinya dapat menyebar ke darah lalu seluruh tubuh (sepsis).

Segera konsultasikan dengan klinik raphael jika anda mengalami indikasi gejala penyakit kista bartholin. Konsultasi secara gratis melalui whatsapp dengan mengklik salah satu gambar dibawah ini. Kami akan membantu anda memberikan solusi terbaik dalam upaya penyembuhan penyakit kista bartholin ini.

klinik Pengobatan gonore
Telepon Klinik kelamin Raphal

Diagnosis kista bartholin

Langkah awal untuk mendiagnosis penyakit kista bartholi biasanya dokter akan menanyakan riwayat medis, pemeriksaan fisik pelvis. Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan sekret vagina yang bertujuan untuk melihat apakah ada indikasi penyakit menular seksual. Diagnosis pada orang yang berusia lebih dari 40 tahun (postmenopausal) direkomendasikan dilakukan biopsi untuk mengecek adanya sel-sel kanker.

Pencegahan kista bartholin

Karena penyakit kista Bartholin ini belum diketahui penyebab pastinya namun upaya yang dapat dilakukan dalam pencegahannya yaitu dengan melakukan pola hidup sehat seperti :

  1. Merawat dan menjaga kesehatan vagina.
  2. Menggunakan kondom saat berhubungan seksual untuk menghindari infeksi menular seksual.
  3. Jangan bergonta-ganti pasangan seksual.
  4. Jauhi aktivitas yang dapat membuat iritasi pada vagina.
  5. Membersihkan organ intim dari depan ke arah belakang yang bertujuan untuk menghindari bakteri yang ada pada anus berpindah ke vagina.

Penanganan kista bartholin

Biasanya, penyakit kista bartholin tidak memerlukan penanganan khusus dan bisa sembuh dengan sendirinya, terlebih ketika orang yang terinfeksi tidak menimbulkan gejala. Namun jika dilakukan pengobatan bisa berdasarkan ukuran kista dan gejala yang muncul. Berikut beberapa jenis pengobatan untuk penyakit kista bartholin yaitu:

  1. Duduk dan berendam di air hangat setinggi panggul yang dilakukan beberapa kali dalam sehari selama 3—4 hari. Pengobatan ini dapat membantu meredakan rasa sakit, kista yang berukuran kecil untuk pecah dan terdrainase dengan sendirinya.
  2. Drainase surgical, pengobatan ini dilakukan ketika kista berukuran besar dengan bius lokal atau sedasi. Pada pengobatan ini dokter membuat insisi kecil untuk membuat cairan keluar lalu menaruh keteter kecil pada insisi tersebut. Pengobatan ini dibiarkan sampai kurang lebih 6 minggu supaya drainase dilakukan dengan tuntas.
  3. Antibiotik diperlukan untuk membunuh bakteri, terlebih jika penyebab kista bartholin karena infeksi patogen yang jadi penyebab penyakit menular seksual.
  4. Prosedur marsupialisasi kista, dengan mengeluarkan cairan melalui cara mengiris kista, lalu menjahit ujung pada kulit sekitarnya agar kista tetap terbuka. Prosedur dapat dikombinasikan dengan pemasangan keteter yang bertujuan untuk mencegah kembali terbentuknya kista.
  5. Pengangkatan kelenjar bartholin ketika upaya pengobatan lain tidak berhasil.
Konsultasi Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: