Risiko dan Bahaya Seks Oral yang Perlu Kamu Ketahui
Banyak orang menganggap seks oral sebagai aktivitas seksual yang lebih aman dibandingkan hubungan seksual vaginal atau anal.
Karena tidak menyebabkan kehamilan, sebagian orang beranggapan bahwa seks oral hampir tidak memiliki risiko kesehatan.
Padahal, faktanya seks oral tetap memiliki risiko penularan penyakit menular seksual (PMS) atau infeksi menular seksual (IMS).
Selain itu, beberapa masalah kesehatan lain juga dapat terjadi jika aktivitas ini dilakukan tanpa perlindungan dan tanpa memperhatikan kondisi kesehatan pasangan.
Lalu, apa saja risiko dan bahaya seks oral? Simak penjelasan lengkap berikut ini.
Daftar Isi
- 1 Arti Oral dalam Medis
- 2 Apakah Seks Oral Aman dan Boleh?
- 3 Risiko dan Bahaya Seks Oral
- 4 Faktor yang Meningkatkan Risiko Seks Oral
- 5 Apakah Seks Oral Selalu Menyebabkan Penyakit?
- 6 Tips Melakukan Seks Oral dengan Aman
- 7 Seks Oral Apakah Bisa Hamil?
- 8 Dampak Emosional yang Sering Kamu Abaikan
- 9 Kapan Harus Periksa ke Dokter?
- 10 Kesimpulan
Arti Oral dalam Medis
Pertama-tama kita bahas tentang seks oral adalah aktivitas seksual yang melibatkan kontak antara mulut, bibir, atau lidah dengan area genital atau anus pasangan.
Aktivitas seks oral bisa meliputi:
- Fellatio atau dari mulut ke penis.
- Cunnilingus atau dari mulut ke vagina.
- Anilingus atau dari mulut ke area anus.
Karena melibatkan kontak langsung dengan cairan tubuh dan selaput lendir, aktivitas ini tetap memiliki potensi penularan berbagai infeksi.
Apakah Seks Oral Aman dan Boleh?
Menghisap kemaluan suami atau sebaliknya (seks oral) umumnya memiliki risiko kehamilan yang sangat rendah atau hampir tidak ada.
Memang menjadi salah satu aktivitas seksual yang dilakukan oleh sebagian pasangan suami istri. Dari sisi medis, aktivitas ini umumnya tidak berbahaya jika melakukannya dengan nyaman, sukarela, dan kedua pasangan dalam kondisi sehat.
Namun, dari sisi kesehatan reproduksi dan penyakit menular seksual, seks oral tidak bisa kamu anggap sepenuhnya aman.
Risiko penularan tetap ada, terutama jika:
- Tidak menggunakan pelindung.
- Memiliki banyak pasangan seksual.
- Terdapat luka pada mulut atau area genital.
- Salah satu pasangan memiliki infeksi menular seksual.
Risiko dan Bahaya Seks Oral
Berikut beberapa risiko penularan penyakit jika kamu melakukan aktivitas seks oral yang perlu kamu ketahui.
1. Penularan gonore (kencing nanah)
Infeksi gonore merupakan salah satu penyakit menular seksual yang dapat menyebar melalui seks oral.
Infeksi gonore atau kencing bernanah dapat terjadi pada organ seperti:
- Mulut
- Tenggorokan
- Area genital
Berikut ini beberapa gejala yang mungkin muncul seperti:
- Sakit tenggorokan.
- Nyeri saat menelan.
- Nyeri saat buang air kecil.
- Keluar cairan dari penis atau vagina.
Pada beberapa kasus, infeksi di tenggorokan tidak menimbulkan gejala sehingga bebeapa orang sering kali tidak menyadarinya.
2. Penularan sifilis (raja singa)
Sifilis dapat menular melalui kontak langsung dengan luka sifilis yang terdapat pada area genital, anus, maupun mulut.
Lebih lanjut gejala infeksi sifilis ini dapat berupa:
- Ruam pada tubuh.
- Luka yang tidak nyeri.
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
Jika penyakit sifilis ini tidak segera kamu obati, maka sifilis dapat menyebabkan komplikasi serius pada berbagai organ tubuh.
3. Penularan herpes genital dan herpes oral
Virus herpes dapat berpindah dari mulut ke area genital atau sebaliknya.
Berikut bejala dari penyakit herpes ini bisa meliputi:
- Luka yang terasa perih.
- Lepuhan kecil berisi cairan.
- Gatal atau sensasi terbakar.
Herpes merupakan infeksi yang dapat kambuh sewaktu-waktu, terlebih jika kondisi imunitas tubuh sedang menurun.
4. Penularan HPV (human papillomavirus)
Kemudian ada infeksi HPV yang menjadi salah satu infeksi yang paling sering ditularkan melalui kontak seksual, termasuk seks oral.
Di sisi lain HPV dapat menyebabkan:
- Kutil kelamin.
- Kutil di area mulut.
- Perubahan sel abnormal pada jaringan tertentu.
Karena sering tidak menimbulkan gejala, banyak orang tidak menyadari telah terinfeksi.
5. Risiko penularan HIV
Meskipun risiko penularan HIV melalui seks oral lebih rendah dibandingkan hubungan seksual vaginal atau anal, penularan tetap dapat terjadi.
Bahkan risiko meningkat jika:
- Gusi berdarah.
- Terdapat sariawan.
- Ada luka pada mulut.
- Dan kontak dengan cairan tubuh yang terinfeksi.
6. Infeksi pada mulut dan tenggorokan
Seks oral dapat menyebabkan infeksi pada area tenggorokan akibat bakteri atau virus yang menular selama kontak seksual.
Selain itu, seks oral juga dapat menularkan berbagai infeksi ke area mulut dan tenggorokan, terutama jika salah satu pasangan memiliki infeksi menular seksual (IMS).
Meski begitu banyak orang mengira seks oral sepenuhnya aman, padahal beberapa penyakit dapat menginfeksi mulut tanpa menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal.
Sebagai contoh untuk kasus ini gejalanya dapat berupa:
- Demam.
- Sulit menelan.
- Tenggorokan terasa sakit.
- Pembengkakan kelenjar leher.
- Kemerahan pada tenggorokan.
7. Risiko infeksi akibat kontak dengan area anus
Kemudian Anilingus atau seks oral pada area anus memiliki risiko paparan bakteri dan parasit dari saluran pencernaan.
Adapun untuk risikonya meliputi:
- Diare.
- Hepatitis tertentu.
- Infeksi bakteri usus.
- Infeksi saluran cerna.
Faktor yang Meningkatkan Risiko Seks Oral
Berikut ini beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan infeksi antara lain:
- Tidak menggunakan pelindung.
- Berganti-ganti pasangan seksual.
- Riwayat penyakit menular seksual.
- Adanya luka pada mulut atau genital.
- Kebersihan area intim yang kurang terjaga.
Apakah Seks Oral Selalu Menyebabkan Penyakit?
Tidak selalu.
Namun, risiko penularan akan meningkat jika salah satu pasangan sedang terinfeksi dan tidak mengetahui kondisinya.
Karena banyak penyakit menular seksual tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, seseorang bisa saja menularkan infeksi tanpa menyadarinya.
Tips Melakukan Seks Oral dengan Aman
Berikut beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi risiko:
- Vaksin HPV.
- Ejakulasi di luar.
- Cuci bersih area intim.
- Menghindari berganti-ganti pasangan seksual.
- Menggunakan kondom saat seks oral pada penis.
- Pastikan pasangan kamu dalam kondisi yang sehat.
- Melakukan pemeriksaan kesehatan seksual secara rutin.
- Menggunakan dental dam saat seks oral pada vagina atau anus.
- Menghindari aktivitas seksual saat terdapat luka atau infeksi aktif.
Meskipun tidak dapat menghilangkan risiko sepenuhnya, langkah-langkah tersebut dapat membantu menguranginya.
Karena dengan melakukan pemeriksaan sejak awal munculnya gejala dapat membantu pemeriksaan dan pengobatan lebih cepat.
Seks Oral Apakah Bisa Hamil?
Sementara itu seks oral tidak bisa menyebabkan kehamilan. Namun, aktivitas ini tetap dapat menularkan berbagai penyakit menular seksual.
Namun jika kamu atau pasangan memiliki keluhan seperti keluar cairan tidak normal dari kelamin, nyeri saat buang air kecil, luka, atau kutil pada area genital.
Sebaiknya lakukan pemeriksaan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Namun, ada beberapa hal yang perlu kamu pahami bahwa kehamilan dapat terjadi jika:
- Ejakulasi terjadi di dalam atau dekat vagina.
- Terjadi hubungan seksual vaginal tanpa perlindungan.
- Sperma yang masih hidup masuk ke vagina melalui jari atau benda yang terkontaminasi sperma segar.
Dampak Emosional yang Sering Kamu Abaikan
Selain berdampak pada kesehatan fisik, penyakit menular seksual akibat seks oral juga dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang.
Banyak orang yang awalnya mengira seks oral tidak berisiko, kemudian merasa terkejut, cemas, bahkan menyesal ketika mengetahui dirinya terinfeksi penyakit tertentu.
Rasa takut menularkan kepada pasangan, khawatir terhadap masa depan kesehatan reproduksi, hingga menurunnya rasa percaya diri sering menjadi beban psikologis yang tidak ringan.
Karena itu, memahami risiko sejak awal jauh lebih baik daripada harus menghadapi konsekuensi kesehatan dan emosional kemudian harinya.
Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Segera lakukan pemeriksaan jika setelah aktivitas seksual muncul gejala seperti:
- Benjolan atau kutil.
- Gatal pada area intim.
- Terasa nyeri saat buang air kecil.
- Luka pada area genital atau mulut.
- Keluar cairan tidak normal dari kelamin.
- Sakit tenggorokan yang tidak kunjung membaik.
Kesimpulan
Seks oral sering dianggap lebih aman dibandingkan bentuk hubungan seksual lainnya, tetapi aktivitas ini tetap memiliki risiko penularan berbagai penyakit menular seksual seperti gonore, sifilis, herpes, HPV, dan HIV.
Selain itu, infeksi pada tenggorokan dan saluran pencernaan juga dapat terjadi pada kondisi tertentu.
Memahami risiko, menjaga kebersihan, menggunakan pelindung, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin merupakan langkah penting untuk melindungi diri dan pasangan dari berbagai masalah kesehatan.
Konsultasikan Keluhan Kamu Sekarang dengan Klinik Raphael
Mengalami gejala seperti nyeri saat buang air kecil, keluar cairan tidak normal, luka pada area kelamin atau mulut, benjolan, kutil, atau keluhan lain setelah aktivitas seksual?
Jangan menunggu sampai kondisi semakin parah atau menularkan kepada pasangan.
Klinik Raphael siap membantu kamu dengan layanan pemeriksaan dan penanganan penyakit menular seksual yang profesional, nyaman, dan menjaga privasi pasien.
Reservasi sekarang dan konsultasikan keluhanmu bersama tim medis Klinik Raphael.
Referensi:
Farmaku. 12 Bahaya Oral Seks dan Tips Aman Melakukannya. https://www.farmaku.com/artikel/oral-seks/
Medical News Today. 2024. Oral sex STI risk charts: Transmission and prevention. https://www.medicalnewstoday.com/articles/oral-sex-std-risk-chart#st-is-that-spread-through-oral-sex
CDC. 2020. Oral Sex and HIV Risk. https://www.cdc.gov/hiv/risk/oralsex.html
Better Health Channel. Diakses pada November 2020. Oral Sex. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/HealthyLiving/Oral-sex.







