6 Penyakit Kelamin Pada Wanita yang Berbahaya
25 September 2020
Yang Harus Kamu Ketahui tentang Hematospermia
30 September 2020
Show all

Tinea Cruris – Penyebab, Gejala, dan Pengobatan.

Tinea Cruris

Tinea cruris adalah infeksi jamur pada kulit di pangkal paha, area genital, paha bagian dalam atas atau bokong dan menyebabkan ruam bentuk cincin di daerah yang terinfeksi. Penyakit ini paling sering terjadi di tempat yang panas, kondisi lembap.

Tinea cruris biasa menjangkiti orang-orang yang banyak mengeluarkan keringat, seperti atlet, namun banyak diderita juga oleh orang-orang yang mengalami obesitas. Pengidap ini bukanlah pengidap yang serius, namun sering menimbulkan rasa gatal yang mengganggu dan membuat tidak nyaman.

Penyebab Tinea Cruris

Tinea cruris disebabkan oleh sejenis fungi yang bisa menyebar dari pemakaian handuk atau pakaian yang terkontaminasi atau melalui kontak langsung dengan pengidap. Selain itu, tinea cruris juga sering disebabkan oleh fungi penyebab tinea pedis atau kutu air, karena infeksi bisa menyebar dari kaki ke pangkal paha.

Fungi paling mudah tumbuh di bagian tubuh yang hangat dan lembap, seperti paha bagian dalam, bokong, dan pangkal paha, serta di lingkungan yang lembap diantara handuk yang kotor, lantai yang basah, dan pakaian penuh keringat.

Baca juga artikel tentang : Herpes Simplex – Gejala Penyebab dan Pengobatan

Tanda dan Gejala Tinea Cruris

  • Gatal dan nyeri di daerah yang terinfeksi.
  • Ruam cincin terjadi pada pangkal paha, lipatan kulit, paha bagian dalam, atau bokong. Ruam biasanya tidak terjadi pada skrotum atau penis.
  • Tepi ruam sangat berbeda dan mungkin bersisik atau memiliki benjolan yang terlihat seperti lecet.
  • Pusat ruam mungkin memiliki warna merah-coklat.

Faktor-faktor Risiko terjangkit Tinea Cruris

Ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan terjangkitnya tinea cruris, yaitu:

  • Banyak berkeringat.
  • Mengidap pengidap kulit lain.
  • Kelebihan berat badan atau obesitas.
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.
  • Berjenis kelamin pria, walaupun wanita juga mungkin terjangkit.
  • Memakai celana dalam yang ketat atau alat bantu atletik yang tidak dicuci setelah digunakan.
  • Menggunakan ruangan loker dan kamar mandi umum.

Diagnosis Tinea Cruris

Tinea cruris biasanya dapat didiagnosis berdasarkan tampilan dan lokasi ruam. Masalah kulit lainnya mungkin terlihat mirip dengan tinea cruris tapi membutuhkan perawatan yang berbeda. Dokter mungkin bertanya tentang gejala dan riwayat medis, atau dokter mungkin akan meminta tes laboratorium pada daerah kulit yang terinfeksi. Pengujian biasanya terdiri dari gesekan kulit yang dapat dilihat di bawah mikroskop. Untuk mencari tahu persis apa yang menyebabkan ruam, dokter mungkin mengikis sejumlah kecil kulit yang teriritasi ke slide kaca.

Pencegahan Tinea cruris

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjangkit Tinea cruris seperti:

  • Saat cuaca panas dan lembap, jangan menggunakan pakaian yang tebal atau ketat untuk jangka waktu lama.
  • Segera atasi pengidap kulit lain, seperti infeksi tinea pedis atau kutu air, agar tidak menyebar ke pangkal paha.
  • Setelah berolahraga atau mandi, keringkan paha bagian dalam dan alat kelamin dengan handuk bersih. Selain itu untuk mencegah kondisi lembap yang berlebihan, taburkan bedak di sekitar pangkal paha.
  • Jangan berbagi pakai peralatan pribadi, seperti handuk atau pakaian.
  • Cuci pakaian yang dipakai berolahraga setelah digunakan dan selalu gunakan pakaian yang bersih.
  • Ganti celana dalam yang digunakan setidaknya satu kali sehari.
  • Hindari memakai pakaian yang ketat, terutama celana dalam, dan seragam olahraga agar kulit tidak tergesek dan lecet. Lecet dapat menyebabkan lebih rentan terkena tinea cruris. Dianjurkan untuk lebih memakai celana pendek bokser dibandingkan celana dalam yang ketat.

Pengobatan Tinea cruris

Untuk penyakit seperti tinea cruris biasanya dokter akan menggunakan krim antijamur atau bubuk yang mengandung terbinafine, miconazole, clotrimazole. Jika gejala tidak membaik setelah 2 minggu, silahkan hubungi kembali dokter. Dokter juga biasanya akan meresepkan obat minum antijamur. Obat ini biasanya harus digunakan untuk waktu yang lama, bahkan mungkin berbulan-bulan.

Konsultasi Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: