

Mononukleosis atau demam kelenjar yang diakibatkan infeksi dari virus EBV (Epstein-Barr Virus). Orang-orang mengenal penyakit ini dengan nama“the kissing disease”.
Penularan infeksi virus ini melalui cairan tubuh seperti air liur, atau droplet yang keluar bersamaan saat seseorang yang terinfeksi sedang bersin dan batuk.
Walaupun infeksi mononukleusis ini tidak tergolong pada penyakit menular yang serius, tapi jika membiarkannya, gejala akan semakin parah tentunya akan mengganggu kehidupan sehari-hari orang yang terinfeksi.
Virus Epstein-Barr (EBV) sebagai virus yang menyebabkan infeksi mononukleosis melalui cairan tubuh. Penularannya melalui air liur atau bisa saja dari darah juga sperma dari kontak langsung dengan orang yang terinfeksi.
Berikut ini adalah beberapa aktivitas yang umumnya dapat meningkatkan pemicu risiko penularan mononukleosis kepada orang lain seperti:
Ketika seorang tertular virus EBV dari air liur orang yang terinfeksi, infeksi virus EBV ini akan masuk ke dalam tubuh, dan akan menginfeksi permukaan dinding sel tenggorokan.
Berikut kami coba beri tahu beberapa kelompok orang yang rentan terhadap virus mononukleosis, yaitu:
Orang yang telah terinfeksi virus Epstein-Barr (EBV) gejala yang sering muncul tidak jauh berbeda dengan gejala flu pada umumnya bahkan hampir sama, gejalanya seperti:
Penyakit mononukleosis merupakan salah satu penyakit yang sulit dalam mencegahnya, karena virus EBV sangat mudah dalam penularan dan tidak menyadarinya.
Contoh langkah efektif dalam pencegahanya dengan tidak melakukan kontak langsung dengan orang yang sedang terinfeksi.
Tindakan tersebut dapat dengan cara sebagai berikut:
Untuk saat ini belum ada terapi spesifik untuk melakukan pengobatan penyakit menular mononukleosis. Penyakit ini juga dapat sembuh dengan sendirinya yang membutuhkan waktu beberapa minggu dengan cara:
Pada beberapa kasus, infeksi mononukleosis berbarengan dengan infeksi bakteri sekunder sehingga membutuhkan terapi antibiotik. Obat tersebut diberikan untuk meredakan rasa sakit dan deman seperti obat paracetamol atau obat ibuprofen.
Baca juga : Neurodermatitis – Penyebab, Gejala dan Pengobatan